Category Archives: artikel

Hand hygiene menurut WHO

cuci-tangan

Tahukah anda? Tanggal 15 oktober adalah hari cuci tangan sedunia pakai sabun yang dicanangkan oleh PBB sebagai salah satu cara menurunkan angka kematian balita serta mencegah penyebaran penyakit.

6 Langkah Cara Cuci Tangan memakai Sabun Yang Baik dan Benar

1. Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan lengan memakai air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut

langkah pertama membasahi tangan

2. Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian

langkah kedua gosok punggung tangan

3. Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih

langkah ketiga bersihkan sela jari

4. Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan

langkah keempat ujung jari tangan

5. Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian

langkah kelima gosok ibu jari

6. Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan

langkah keenam telapak tangan
Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk atau tisu.

Penggunaan sabun khusus cuci tangan baik berbentuk batang maupun cair sangat disarankan untuk kebersihan tangan yang maksimal.

6 langkah mencuci tangan di atas umumnya membutuhkan waktu 15 – 20 menit. Pentingnya mencuci tangan secara baik dan benar memakai sabun adalah agar kebersihan terjaga secara keseluruhan serta mencegah kuman dan bakteri berpindah dari tangan ke tubuh anda

<sumber Tim PPI RSDM>

tambahan dari Tim PKRS melalui facebook :

https://www.facebook.com/ryzqa.arifin/videos/10209227501897059/

Autisme juga bisa hidup berkualitas

tumbang

Apa itu Autisme ?

Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibatnya sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Gejala Autisme 

Gejala individu dengan gangguan autisme yang harus muncul (salah satu atau kesemuanya) adalah gangguan interaksi kualitatif, gangguan komunikasi verbal, dan non verbal, dan perilaku repetitive terbatas dengan pola minat, perilaku dan aktifitas berulang.

Penyebab Autisme 

Sampai saat ini, apa yang menjadi penyebab gangguan spektrum autisme ini belum dapat ditetapkan. Negara-negara adikuasa yang sanggup melakukan penelitian menyatakan bahwa penyebab gangguan perkembangan ini marupakan interaksi faktor genetik dan berbagai paparan negatif yang didapat dari lingkungan.

Pendidikan bagi penderita Autisme

Individu dengan gangguan autisme tidak berbeda dengan individu lain non-autistik. artinya kecerdasan setiap individu bervariasi. Karena tingkat kecerdasan setiap individu berbeda, intensitas gejala autistik juga tidaklah sama, maka kemungkinan pendidikan bagi individu autistik bervariasi dari ‘bisa mencapai pendidikan setinggi mungkin’, sampai ‘tidak bisa dididik tetapi hanya bisa dilatih saja’.

Penanganan bagi individu autistik

berbagai terapi terbukti mampu mambantu meningkatkan kualitas hidup individu autistik, penanganan yang sudah tersedia di RSD Madani di Unit Tumbuh Kembang Anak dan Remaja antara lain : Terapi sensori integrasi, Terapi okupasi, Terapi Wicara dan Fisioterapi. <soedj-mgl>

 

Skizofrenia

.

Gangguan jiwa berat yang ditandai dengan gangguan penilaian realita (waham dan halusinasi).

TANDA DAN GEJALA :

  1. Proses pikirnya terganggu
  2. Adanya waham, adalah suatu kepercayaan yang salah dan menetap, tidak sesuai dengan fakta dan tidak bisa dikoreksi
  3. Halusinasi, ilusi
  4. Gangguan emosi
  5. Berbagai perilaku tidak sesuai atau aneh dapat terlihat seperti gerakan tubuh yang aneh dan menyeringai, perilaku ritual, sangat ketolol-tololan dan agresif serta perilaku seksual yang tak pantas
  6. Motivasi seringkali menurun atau hilang pada orang dengan skizofrenia, misalnya kehilangan kehendak dan tidak ada aktifitas.
  7. Adanya gangguan perhatian, menurunnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah, gangguan memori.

FASE AKUT :

  • Pemberian obat
    Mencegah pasien melukai dirinya atau orang lain, mengendalikan perilaku yang merusak, mengurangi beratnya gejala psikotik
  • Berbicara kepada pasien dan memberinya ketenangan
  • Keputusan untuk memulai pemberian obat. pengikatan atau isolasi hanya dilakukan oleh petugas kesehatan bila pasien berbahaya terhadap dirinya sendiri dan orang lain serta usaha lainnya tidak berhasil.
  • Pada fase akut ini, obat segera diberikan.
  • Psikoedukasi
    Memberikan ketenangan kepada pasien untuk mengurangi keterjagaan melalui komunikasi yang baik, memberikan dukungan atau harapan, menyediakan lingkungan yang nyaman, toleran perlu dilakukan.
  • Terapi lainnya,
    ECT (terapi kejang listrik) dapat dilakukan pada pasien skizofrenia yang perkembangannya tidak signifikan/ tidak kunjung membaik setelah diberikan terapi obat.

FASE STABILISASI

  • Pemberian Obat
    Mempertahankan remisi gejala atau untuk mengontrol, meminimalisasi resiko atau konsekuensi kekambuhan dan mengoptimalkan fungsi dan proses kesembuhan.
  • Psikoedukasi
    Meningkatkan keterampilan orang dengan skizofrenia dan keluarga dalam mengelola gejala. Mengajak pasien untuk mengenali gejala-gejala, melatih cara mengelola gejala, merawat diri, mengembangkan kepatuhan menjalani pengobatan.

FASE RUMATAN

  • Pemberian Obat
    Dosis mulai diturunkan secara bertahap sampai diperoleh dosis minimal yang masih mampu mencegah kekambuhan
  • Psikoedukasi
    Mempersiapkan pasien kembali pada kehidupan masyarakat. Pelatihan keterampilan sosial dan terapi vokasional, cocok diterapkan pada fase ini.
    Pada fase ini pasiendan keluarga juga diajarkan mengenali dan mengelola gejala kekambuhan, sehingga mereka mampu mencegah kekambuhan berikutnya.

PENATALAKSANAAN EFEK SAMPING

Bila terjadi efek samping dari pengobatan, misalnya kekakuan otot, lidah kaku, produksi air liur berlebih, segera konsultasikan ke dokter atau ke rumah sakit.

sumber : rsjdd-rms15

Mengenal Depresi

Depresi 

Perasaan yang sedih dari satu waktu merupakan bagian dari kehidupan normal, namun jika perasaan sedih tersebut selalu ada dan tidak mungkin hilang, ini merupakan sesuatu yang disebut Depresi.

Orang dengan depresi berat mempunyai ketertarikan yang rendah bahkan tidak tertarik dalam bekerja maupun menyalurkan hobinya.

gambar: kompasiana.com

Siapa saja yang dapat terkena Depresi ?

Menurut WHO ( Worlds Health Organisation), sekitar 20% wanita dan 12% Pria, pada suatu waktu dalam kehidupannya pernah mengalami depresi. Dilaporkan sekitar 44% pasien stroke yang dirawat di rumah sakit menderita depresi. Sedangkan pada pasien dengan gangguan jantung diperkirakan sekitar 20-25% menderita depresi.

Gejala Klinis Depresi :

  • Anda tidak cukup tidur atau tidur berlebihan
  • Sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan
  • Merasa diri tidak berharga dan putus asa.
  • Tidak dapat mengontrol pikiran negatif
  • Kehilangan nafsu makan atau tidak dapat menghentikan makan
  • Selalu gelisah atau menjadi marah akibat hal-hal kecil
  • Mempunyai pikiran bahwa hidup bukan hal berharga, dan mempunyai rencana bagaimana mengakhiri hidup ini

Apa Penyebab Depresi

Depresi merupakan suatu kondisi yang kompleks, dan hal itu tidak hanya disebabkan oleh ketidakseimbangan kimiawi sehingga terapi depresipun menjadi tidak mudah.

Depresi klinis secara umum disebabkan oleh faktor biologis, psikologis dan faktor sosial. Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko untuk menjadi depresi ini, diantaranya :

  • Faktor genetik
  • Trauma pada masa anak-anak
  • Kesendirian atau tidak adanya dukungan sosial. Tekanan kehidupan pada saat ini dan pengalaman hidup yang traumatis
  • Alkohol dan obat-obatan
  • Masalah keuangan dan pekerjaan
  • Masalah kesehatan dan nyeri kronik.

Cara Mengatasi Depresi 

  • Katakan dan carilah dukungan
  • Buatlah perubahan gaya hidup yang lebih sehat. Carilah lebih banyak teman. Lakukan aktifitas fisik, cukup tidur, makan yang sehat, serta manajemen/ pengaturan stress dengan cara relaksasi.
  • Carilah bantuan orang yang profesional (perawat, dokter, psikolog)
  • Terapi obat-obatan, gunakan obat anti depresi secara teratur sesuai petunjuk dokter, karena ada efek samping yang mungkin timbul.
  • Mungkin dibutuhkan waktu beberapa lama sampai anda merasakan perbaikan
  • Jangan merasa malu mengakui bahwa anda menderita depresi dan jangan putus asa untuk mencari pertolongan, karena penyakit ini dapat diobati.

” Dengan pengobatan, mayoritas penderita Depresi dapat pulih kembali dan memperoleh kembali kebahagiaan hidupnya”.

Sumber : rsjd-sujarwadi

Feedback dan Terapi Neurofeedback pada ADHD

Brain

Biofeedback adalah metode untuk memvisualisasikan proses fisiologis yang terjadi di dalam tubuh, yang diatur oleh sistem saraf otonom.

Neurofeedback, awalnya bernama EEG biofeedback, adalah sebuah aplikasi tertentu biofeedback untuk memvisualisasikan aktivitas listrik otak yang mengajarkan pasien untuk mempengaruhi gelombang otak. Neurofeedback, disebut juga sebagai neurotherapy atau pelatihan fungsi otak.

alat berfungsi ganda, alat bantu diagnostik dan simulasi training dimana penggunaannya antara lain :

  1. ADHD : SMR, ά/θ Learning
  2. LIE DETECTOR MULTICHANNELS
  3. STRESS ANALYZER & MANAGEMENT
  4. MIGRAIN
  5. CHRONIC TENSION HEADACHE
  6. EMPLOYE EVALUATION
  7. CONCENTRATION TRAINING
  8. PSYCHOSOMATIC PROBLEM

Biofeedback (neurofeedback) sebagai metode pelatihan yang memperlihatkan efek fisiologis terhadap stress, relaksasi, beban kerja, dll.

Parameter yang di ukur antara lain :

  • Respiration/Breathing
  • EMG (muscle tension)
  • Heart rate and HRV
  • Bloodflow (vasodilation/vasoconstriction)
  • Skin conductance/resistance, Temperature

Biofeedback: menggunakan parameter Fisiologis yang  memperlihatkan interaksi pikiran dan tubuh. Parameter tersebut digunakan untuk data dasar dan parameter latihan perubahan perilaku, yang akan memperbaiki masalah / gangguan kesehatan jiwa.

Bisa untuk terapi masalah kesehatan terkait seperti :

  • Detak jantung (Palpitasi) dan arhytmia ringan
  • Hipertensi esensial
  • Kram otot/nyeri (leher, pundak, kepala), RSI
  • Chronic tension headache, triggering of migraine
  • Hyperventilation, tension and pain on the chest
  • Berkurangnya konsentrasi, fungsi memori dan atensi / perhatian
  • Ketegangan, depresi ringan.
  • Gangguan tidur

Terapi neurofeedback adalah salah satu pilihan terapi yang menjanjikan saat ini untuk penanganan ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder).

Tujuan terapi adalah membuat pasien mengubah cara kerja otaknya sehingga fungsinya lebih optimal, tidak seperti seseorang dengan ADHD.

Apa itu Biofeedback?

Biofeedback adalah penggunaan alat untuk mencerminkan proses psikologi dan fisiologi yang pada umumnya tidak disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan disadari oleh orang tersebut, namun dengan menggunakan alat biofeedback, proses pikir seseorang dapat disadari dan berada di bawah kontrol

Orang akan menerima informasi tentang status biologisnya, dan menggunakan informasi ini, ia belajar untuk meraih kontrol di bawah fungsi biologis yang tidak disadari.

Neurofeedback adalah tipe dari biofeedback yang dapat digunakan untuk melatih pola gelombang otak anak

dengan ADHD/ADD (Attention Deficit Disorder) dan mengubahnya agar menjadi lebih seperti anak-anak normal.

Menggunakan elektroensefalografi (rekaman listrik otak) untuk memonitor gelombang otak dan positive reinforcement system, anak akan belajar bagaimana membuat otak mereka menjadi lebih atentif/konsentrasi. Hasilnya

adalah berkurangnya gejala ADHD dan peningkatan perilaku yang tidak impulsive atau hiperaktif. Peningkatan ini relatif tergantung pada sebaik apa anak dapat mengontrol fungsi otak mereka.

Bagaimana otak kita bekerja?

Setiap manusia mempunyai lima pola gelombang otak. Setiap area otak mempunyai pola predominan yang merefleksikan

status mental seseorang saat ini. Pola ini dapat diukur dan direkam dengan alat elektroensefalogram (EEG). EEG dapat digunakan untuk membuat peta dari fungsi mental seseorang. Lima jenis gelombang otak itu adalah :

Gelombang beta : Ini adalah gelombang tercepat yang berhubungan dengan status mental, intelektual, dan

konsentrasi. Gelombang beta dalam jumlah banyak membuat seseorang mampu berkonsentrasi.

Gelombang SMR : Adalah subkategori dari gelombang beta. Ini adalah gelombang yang muncul pada korteks sensorimotor jika seseorang fokus pada tantangan fisik.

Gelombang alfa : Gelombang ini lebih lambat dari gelombang beta yang bekerja untuk relaksasi.

Gelombang teta : Gelombang ini lebih lambat lagi dari gelombang alfa. Ini adalah gelombang otak saat bermimpi atau tertidur.

Gelombang delta : Ini adalah gelombang otak yang paling lambat yang muncul saat tidur yang dalam.

Seseorang dengan ADHD/ADD cenderung memiliki gelombang lambat yang berlebihan (biasanya gelombang teta dan alfa). Jika peningkatan gelombang lambat ini terjadi di bagian eksekutif, yaitu bagian frontal otak (otak sebelah depan),

maka akan sulit untuk mengontrol konsentrasi, perilaku, dan emosi.

Saat seorang anak normal diberi tugas yang membutuhkan konsentrasi, jumlah gelombang beta di beberapa bagian otaknya meningkat. Hal ini tidak terjadi pada anak dengan ADHD. Yang terjadi bukannya peningkatan gelombang beta, tetapi peningkatan gelombang teta. Sehingga anak dengan ADHD memiliki rasio gelombang teta/beta yang tinggi. Jadi di saat anak normal berkonsentrasi lebih keras saat menyelesaikan tugas, pikiran anak dengan ADHD dapat melayang ke hal-hal lainnya.

Terapi neurofeedback dapat melatih anak dengan ADHD untuk menurunkan rasio gelombang teta/betanya. Semakin rendah rasio teta/beta, semakin baik anak dapat berkonsentrasi. Sebuah elektroda diletakkan di puncak kepala dan sepasang elektroda diletakkan di daun telinga atau di tulang mastoid di belakang telinga. Melalui ketiga elektroda ini, aktivitas listrik otak direkam dan ditampilkan di layar komputer.

Apakah terapi neurofeedback ini efektif?

Selama terapi, anak diajarkan secara bertahap untuk mengurangi produksi gelombang teta dan meningkatkan produksi gelombang beta. Rasio gelombang teta/beta menjadi normal sehingga gejala dan perilaku ADHD akan banyak berkurang atau bahkan menghilang.

Seiring meningkatnya kemampuan konsentrasi, terapi ini juga akan meningkatkan kognitif mereka. Peningkatan ini bersifat permanen.

Penelitian lanjutan mengenai hal ini telah dilakukan sejak tahun 1970an. Terdapat beberapa penelitian yang membuktikan efektivitasnya. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa neurofeedback sama sekali tidak memberikan manfaat.

Penelitian Levesque dan kolega pada tahun 2006 menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan memperlihatkan adanya perubahan positif pada fungsi otak anak dengan ADHD setelah terapi neurofeedback. Terapi neurofeedback untuk ADHD mengurangi gejala impulsivitas dan hiperaktivitas, menstabilkan mood, memperbaiki siklus tidur, meningkatkan konsentrasi, meningkatkan daya ingat dan performa akademik. Yang menarik, juga terjadi peningkatan IQ setelah terapi neurofeedback ini. Rata-rata peningkatan nilai IQ ini bervariasi dari tiap penelitian. Ada yang menyebutkan peningkatan 9 poin hingga 23 poin dari nilai IQ. Hal ini membuat neurofeedback menjadi terapi yang signifikan bagi ADHD. Belum ada penelitian pada terapi lain yang membuat perubahan permanen seperti ini.

Neurofeedback juga terbukti efektif dalam menangani berbagai macam epilepsi, termasuk grand mal, kompleks parsial, dan petit mal. Neurofeedback menurunkan 70% kejadian kejang, bahkan hingga 82% pada pasien yang mengkonsumsi obat teratur.

Pada orang dengan kecanduan alkohol dan narkoba, terjadi penurunan gelombang alfa dan teta serta peningkatan berlebih pada gelombang beta. Hal ini membuat mereka sulit untuk rileks. Latihan neurofeedback mengurangi stres pada pecandu melalui meningkatnya gelombang alfa dan teta, serta menurunnya gelombang beta.

Neurofeedback juga bermanfaat mengurangi gejala pada Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Sebuah penelitian pada korban PTSD di Vietnam membuktikan bahwa neurofeedback mengurangi kekambuhan pada pasien yang mendapatkan terapi neurofeedback dan medikasi dibandingkan pada pasien yang hanya mendapat medikasi saja.

Tidak hanya pada orang dengan gangguan psikiatri, neurofeedback juga bermanfaat bagi orang normal tanpa gejala, misalnya digunakan untuk meningkatkan performa kerja, daya ingat, dan kognitif pada pebisnis, musisi, dan atlet.

Berapa sesi terapi yang dibutuhkan?

Latihan neurofeedback untuk gangguan cemas atau insomnia membutuhkan 15-20 kali sesi, sedangkan untuk ADHD/ADD atau gangguan belajar membutuhkan 40-50 kali sesi terapi. Tiap sesi umumnya berlangsung selama 40-60 menit. Pada kondisi pasien dengan kondisi yang kompleks, dokter tidak selalu dapat memperkirakan berapa sesi yang dibutuhkan untuk memberikan hasil bagi pasien.

Bagaimana memilih terapis yang profesional?

Ada beberapa orang tua yang berharap dapat membeli alat ini lalu kemudian mengaplikasikannya sendiri ke anak mereka. Juga ada beberapa pihak yang menyewakan alat neurofeedback ini di rumah mereka. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dibutuhkan operator yang mengerti fungsi otak, dapat mengenali gejala setiap pasien, dan mengadakan penilaian serta evaluasi terhadap terapi.

Terapi pada setiap pasien tidaklah sama. Maka sebelum terapi perlu dilakukan penilaian oleh klinisi mengenai riwayat klinis pasien. Jika perlu maka dilakukan pemeriksaan psikologi atau neuropsikologi terlebih dahulu. Pada beberapa kasus diperlukan pemeriksaan yang lebih komprehensif, yaitu quantitative electroencephalogram (QEEG) brain map yang merupakan alat untuk mengevaluasi pola gelombang otak. QEEG dapat mengevaluasi kondisi seperti cedera otak ringan,

ADHD/ADD, gangguan belajar, depresi, gangguan obsesif kompulsif, gangguan cemas, gangguan panik, dan kondisi lain

seperti autisme, skizofrenia, stroke, epilepsi, dan demensia.

Apa efek samping terapi neurofeedback?

Efek samping ringan dapat muncul selama terapi neurofeedback, yaitu lelah, cemas, sakit kepala, gelisah, dan anak menjadi rewel. Tidak ada efek samping yang berbahaya. Jika efek samping ini muncul, terapis dapat mengubah jenis latihan sehingga mengeliminasi efek samping tersebut. Maka dari itu dibutuhkan terapis yang dapat mengenali gejala pada setiap pasien.

Neurofeedback membutuhkan motivasi pasien untuk mengikuti terapi sampai selesai. Terapi ini baru dapat diterapkan pada anak usia 6 tahun ke atas karena anak yang lebih kecil belum bisa mengikuti instruksi terapis. Terapi neurofeedback ini bukanlah cara untuk menyembuhkan anak dengan ADHD, terapi ini hanya salah satu cara untuk mengurangi gejala dan memperbaiki perilaku mereka. Berkonsultasilah dengan psikiater Anda untuk menentukan terapi yang terbaik bagi anak anda.

Referensi :

Hammond, D.C. 2006. What is Neurofeedback?. University of Utah School of Medicine.

error: Content ini diproteksi ... !!